16
Jul
10

Kesenian Debus Surosowan Banten

Seni Tradisional Debus Banten

Oleh Tri Ilma Septiana

Pengertian Debus

Istilah Debus sampai saat ini belum dapat diketahui pasti berasal dari kata apa atau mengambil dari istilah bahasa asing mana, sebab sampai saat ini belum ada catatan tertulis yang mendeskripsikan kata debus. Namun menurut Tb. A. Sastrasuganda, mantan Kepala Seksi Kebudayaan Kandepdikbud kabupaten Serang mengatakan bahwa kata debus bersal dari kata tembus. Hal ini  merujuk kepada alat yang digunakan adalah salah satu benda tajam yang dapat menembus tubuh. Ada juga yang mengartikan debus dari kata gedebus, yaitu nama dari salah satu benda tajam yang digunakan dalam pertunjukkan kekebalan tubuh. Benda tajam tersebut terbuat dari  besi dan digunakan untuk melukai diri sendiri. Oleh karena itu dalam hal ini kata debus diartikan sebagai tidak tembus.

Debus merupakan pencak silat yang berhubungan dengan ilmu kekebalan sebagai refleksi sikap masyarakat Banten untuk mempertahankan diri. Debus merupakan kekuatan gaib atau ajaib yang than terhadap benda tajam, tusukan, pukulan, dan dibakar oleh api.

Kesenian debus merupakan kesenian yang bersifat religious. Hal ini ditandai dengan adanya doa-doa yang diambil dari ayat-ayat Al Qur’an. Kesenian ini berkembang di kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Serang terutama di Kecamatan walantaka dengan tokohnya Muhammad Idris, Kecamatan Curug dengan tokohnya Umor, Kecamatn Viruas yang dipimpin oleh H. Ahmad, dan Kecamatan Cikande dengan tokohnya H. Renam.

Latar Belakang Sejarah dan Fungsi Debus

Asal-usul debus tidak dapat dipisahkan dari penyebaran agama Islam di Indonesia. Debus tumbuh di Bvanten sebagai alat untuk menyebarkan ajaran Islam di daerah yang masih menganut ajaran Hindu dan Budha. Pada Masa Kesultanan Sultan Ageng Tirtayasa sekitar abad ke 17 masehi, debus difokuskan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajahan Belanda. Oleh karena itu, Kesenian ini lebih bersifat kesenian bela diri  dan memupuk keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa.

Pada masa lalu pertunjukkan debus dilaksanakan di suatu ruangan di dalam Masjid Agung Banten yang disebut “Gedung Tiyamah”, yaitu sebuah banguanan tak jauh dari Masjid Agung Banten.  Selama pertunjukan Debus berlangsung biasanya dipimpin oleh seorang atau dua orang guru yang disebut Khalifah atau Syekh yang bertanggung jawab terhadap kelancaran permainan dan menjaga keselmatan para pemain Debus. Pada mulanya permainan ini hanya dimainkan oleh kaum Adam, namun saat ini tidak jarang diminati pula oleh kaum perempuan.

Menurut Sandjin Aminuddin, seorang tokoh Banten mengungkapkan bahwa pengaruh seni Debus terhadap masyarakat cukup luas, antara lain sebagai berikut:

  1. Kesenian Debus bergerak dibidang kekebalan. Kekebalan identik dengan bela diri. Dengan demikian kesenian ini mudah dicintai.
  2. Masyarakat Banten umunya fanatic agama, sehingga hanya kesenian yang bermanfaat bagi agamalh yang bias berkembang di masyarakat.  Kesenian Debus selalu membawakan dzikiran yang memuji dan mengagungkan Allah dan Rasulullah SAW.
  3. Kesenian Debus merupakan kesenian yang langka dan digemari oleh masyarakat sebagai hiburan rakyat.
  4. Para Alim Ulama menganggap kesenian Debus tidak bertentangan dengan ajaran Agama Islam.

Pertunjukkan Seni Debus

Salah satu kesenian debus yang sangat popular di Banten adalah Seni Debus Surosowan Banten di Kecamatan walantaka, serang. Seni debus ini dipimpin oleh Muhammad Idris. Adapun persyaratan yang harus ditempuh oleh seorang pemain Debus disetiap penampilannya adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan puasa selama 40 hari.
  2. Setelah Shalat Fardhu diharuskan membaca Bismillah sebanyak-banyaknya.
  3. Membaca wiridan sebanyak sebelas kali.

Adapun bacaan wiridannya sebagai berikut:

Bismillahirahmanirahim”

Inna Atoinakal Kautsar Fasholli liwa liwali warba

Tulung para wali sakabeh, mangka welas mangka asih

Atine wong sadunia madeleng maring isun, berkahna Lailahaillallah

Muhammaddurasulullah.

“Bismillahirahmanirahim”

Bima bayu ongedek agu geni murud mati dening aku.

Repsirep atine wong sadunia madeleng maring isun, berkahna

Lailahaillallah Muhammaddurasulullah.

  1. Harus yakin dengan apa yang dipelajari dan diamalkannya.
  2. Menjauhi larangan yang telah ditetapkan oleh agama Islam seperti 5 M (Maling, Maen, Madon, Minum, Madat).

Jika syarat-syarat telah dipenuhi maka si pemain debus barulah diijinkan oleh syaikh atau guru tersebut untuk menampilka atraksi debus. Berikut ini tahapan-tahapan pertunjukkan debus yang biasa ditampilkan oleh Debus Surosowan:

  1. Pembukaan (gembung), yaitu pembacaan sholawat dan puji-pujian yang diiringi instrument music tabuh selama 2-3 menit.
  2. Pelaksanaan dzikir kepada Allah dan sholawat kepada Nabi dan para Sahabatnya sambil diiringi tabuh music.
  3. Beluk, yaitu nyanyian yang dibawakan oleh pendzikir dengan suara keras, melengking, bersahut-sahutan, dan diiringi dengan tabuh-tabuhan. Beluk ini dilakukan sampai dengan pertunjukkan berakhir.
  4. Silat, ketika beluk dimulai maka keluarlah satu atau dua orang pesilat yang mendemonstarsikan kebolehannya dalam bersilat.
  5. Permainan Debus, dua orang menggunakan peralatan debus: satu orang memegang Almadad (gedebus) ditempelkan keperutnya dan satu orang lagi memegang pemukul atau gada yang siap dipukul ke Almadad.
  6. Mengupas kelapa dengan menggunakan gigi, setelah kelapa dikupas dipecahkanmenggunakan kepala pemain debus.
  7. Menggoreng kerupuk atau telor diatas kepala.
  8. Membakar anggota tubuh dengan api dan menyisir rambut dengan api tanpa terbakar sedikitpun.
  9. Menaiki anak tangga yang terbuat dari golok yang tajam.
  10. Mamakan pecahan kaca dan arang.
  11. Gemrung, yaitu permainan instrument untuk mengakhiri pertunjukkan.

Pemain Debus dan Busana yang digunakan

Debus merupakan pertunjukkann seni secara berkelompok, biasanya dalam sebuah kelompok debus terdiri dari 12 sampai dengan 15 orang yang masing-masing memilki tugas masing-masing. Adapun uraian tugas pemain dan pendukung pertunjukkan debus adalah sebagai berikut:

  1. 1 orang juru gendang
  2. 1 orang penabuh terbang (rebana besar)
  3. 2 borang penabuh dogdog tingtit.
  4. 1 orang penabuh kecrek
  5. 4 orang sebagai pendzikir yang berganti-gantian.
  6. 5 orang pemain debus.
  7. 1 orang sebagai Syaikh (guru/pemimpin kelompok debus).

Dalam setiap penampilannya pemain dan pendukung debus menggunakan busana khas yang terlihat seperti busana yang dipakai oleh seorang pendekar. Busana yang digunakan dalam pertunjukkan seni debus didominasi warna hitam yang terdiri dari:

  1. Baju Kampret yaitu baju tanpa kerah yang mempunyai kantong 2 buah dibagian bawah kiri dan kanan, serta bertangan panjang.
  2. Celana Pangsi yaitu celana yang dibuat tanpa ikat pinggang, bila dipakai digulung seperti memakai sarung dan baru diberi ikat pinggang. Ukuran bagian kaki cukup lebar untuk memudahkan bergerak dalam beratraksi.
  3. Lomar (Ikat Kepala) terbuat dari kain batik, berbentuk segi tiga atau segi empat yang dilipat menjadi segi tiga.

0 Responses to “Kesenian Debus Surosowan Banten”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: